Sese nama seekor semut. Badannya berwarna hitam. Perutnya gendut dan matanya bulat seperti bola. Sese tinggal bersama neneknya yang sudah tua di negeri Semut Hitam di dalam tanah. Semut-semut itu saling menyayangi. Bila mempunyai makanan selalu dibagi dengan teman-temannya. Negeri semut dipimpin oleh Raja Semut yang bernama Raja Doblang. Ia adalah rana yang pintar dan baik hati.

Pada suatu hari Raja Doblang membunyikan terompet.

“tret………..tete……..teteeeeet…………….”

Waktu itu Sese masih tidur dengan nyenyak.

“Se….Se….ayo bangun, sudah pagi!” kata neneknya membangunkan Sese.

“Ah, masih ngantuk Nek,” kata Sese malas.

“Eh, dengarkan suara terompet itu, kita harus segera berkumpul di lapangan. Ayo nanti kita terlambat!” ajak nenek.

“tret….tete……teteeeeet…..”

“Oh, ya. Ayo Nek, cepat!” ajak Sese.

Sese dan nenek segera menuju lapangan yang luas. Semua semut sudah berkumpul. Tampak Raja Doblang dengan mahkota yang indah sudah berdiri di atas batu hitam besar, kemudian Ia berkata kepada rakyatnya: “ Hai rakyatku. Hari ini Allah memberi makanan buat kita semua,” kata Raja Doblang lantang.

“Hore….hore…..Alhamdulillah” teriak semua semut, senang mendengar berita itu.

“Lalu manakah makanannya, Raja Doblang?” Tanya Nenek

“Kita harus berjalan dulu, lalu kita akan menemukan rumah manusia. Nah, disitulah rizki yang diberikan Allah” jawab Raja Doblang.

Mendengar hal itu semua semut saling berpandangan.

“ Raja Doblang yang baik, ada apa dengan rumah itu?” Tanya seekor semut.

Mendengar pertanyaan itu Raja Doblang tersenyum.

“Rumah manusia itu kotor, banyak makanan berceceran, tidak pernah disapu,” jawab Raja Doblang.

“Sekarang, marilah kita serbu rumah itu!” perintah Raja Doblang.

“Setujuuuuuu…..”teriak semua semut

Lalu dengan membaca Bismillaahirrahmaanirrahiim mereka bersama rombongan itu berbaris teratur. Tidak ada yang saling mendorong.

“Satu….dua….tiga…satu dua tiga,” terdengar mereka memberi aba-aba.

Sese dan neneknya ikut dalam barisan itu.

“Sese, jangan jauh-jauh dari nenek, tetap di belakang nenek ya!” pinta neneknya

“Mengapa Nek?” Tanya Sese ingin tahu

“Bila jauh dari nenek nanti bias tersesat, tidak tahu jalan pulang”

“Baiklah Nek,” kata Sese sambil menganggukkan kepalanya.

Mereka terus berjalan. Sese mulai mengeluh karena semut berjalan lambat.

“Nah kalau aku lari tentu bisa cepat sampai, kalau lambat begini kapan sampainya,” kata Sese kesal.

Diam-diam Sese meninggalkan rombongan semut itu. Sese terus berlari. Ia semakin jauh dari neneknya. Tiba-tiba hidung Sese mencium bau yang sedap.

“Wah, hmmmm, enak sekali baunya, bau apa ya?” kata Sese

Ternyata Sese sudah sampai di sebuah rumah yang indah dan bersih. Ia segera masuk dan naik ke atas meja. Ada sebuah cangkir yang didalamnya berisi susu coklat.

“Wah, pasti enak susu ini,” kata Sese sambil masuk ke dalam cangkir.

Ia minum sepuas-puasnya sampai perutnya menjadi kenyang.

“Hmmm, enak sekali,” kata Sese senang.

Tiba-tiba Sese memandang sekeliling rumah itu, bersih tidak ada makanan berceceran.

Jangan-jangan aku tersesat.

“Nek….Nenek….aku takut!Nenek dimana?” teriak Sese yang ketakutan.

Karena terlalu kenyang, Sese mengantuk. Ia tertidur di pinggir cangkir. Tiba-tiba cangkirnya bergoyang-goyang. Pelan-pelan ia membuka matanya. Sese sangat terkejut ketika melihat seorang anak laki-laki melotot kearahnya. Sese ketakutan. Tangan anak laki-laki itu mau meraihnya. Cepat-cepat ia keluar dari cangkir dan terus berlari.

“Nenek………….toloooooooong……!”teriak Sese

Sese terus berlari. Tiba-tiba Sese tercebur di sebuah ember berisi air.

“Byurrr…..!”

Ia mencoba berenang tapi tidak berhasil dan hampir tenggelam. Sese menangis. Ia teringat pada neneknya.

“Nenek…maafkan Sese”

“Ya Allah, tolonglah aku,” doa Sese

Sese mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Badannya semakin lemas. Tiba-tiba ada seorang anak perempuan mendekatinya. Sese ketakutan. Ia mengira anak itu akan membunuhnya. Cepat ia menutup matanya. Anak perempuan itu bernama Ani. Ia membantu ibunya mencuci piring. Ia terkejut melihat seekor semut yang hampir tenggelam di dalam air.

“Ah, kasihan sekali semut ini. Mari aku tolong, kita kan harus tolong menolong”

Dengan tangannya Ani meraih semut itu dan diletakkan di atas tanah. Kemudian Sese membuka matanya. Ia gembira karena ada yang menolongnya.

“Terima kasih anak yang baik” kata Sese sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

Sese terus berjalan. Ia menangis karena tidak tahu jalan pulang. Hari semakin gelap, bintang tampak berkedip-kedip. Sese semakin ketakutan. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang bersinar.

“Itu kan mahkota Raja Doblang” teriak Sese senang

“Raja Doblaaaaa…….ng, ini aku Sese!’

Sese terus berlari menghampiri Raja Doblang. Ia melihat nenek sedang menangis.

“Nenek….maafkan aku!” kata Sese sambil memeluk neneknya

“Oh Sese, kamu sudah kembali, Nenek bingung mencarimu”

“Maafkan aku, nek! Aku pergi tanpa pamit”

“Dari mana saja kamu Sese?” Tanya Raja Doblang

“Maafkan aku Raja Doblang, aku pergi tanpa pamit, lalu aku tersesat” jawab Sese sedih

“Lain kali kalau mau pergi pamit dulu ya!”kata Raja Doblang

“Aku berjanji mulai sekarang akan selalu pamit bila akan pergi dan patuh pada nenek”, jawab Sese lirih.

“Ayo sekarang kita kembali ke negeri semut!”ajak Raja Doblang

Dengan senang hati Sese dan neneknya mengikuti Raja Doblang kembali ke negeri semut. Sejak itu Sese menjadi anak yang baik. Ia selalu pamit bila akan pergi.

“Pengarang: Siti Maryam Nur Handayani”