Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai ayat, antara lain QS. Luqman: 12-19 dan QS. As Shaffat: 102, serta berbagai hadits Rasulullah SAW.

Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan ‘al hakiim’ atau ‘Luqman yang bijaksana’ mengajarkan bahwa ‘sifat bijak’ bagi seorang pendidik termasuk para orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang memang secara khusus dikaruniakan nikmat ‘hikmah’ oleh ALLAH, menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah bagian dari kenikmatan Illahi yang menjadi cobaan (fitnah) atasnya. Oleh sebab itu, ia menanamkan pendidikan  kepada anaknya sebagai manifestasi kesyukurannya terhadap ALLAH Pemberi Nikmat (ayat 12).

Berikut ini adalah dasar-dasar pokok pendidikan anak yang tersimpulkan dari berbagai ayat Al Qur’an dan Sunnah Rosul:

  1. Menanamkan nilai ‘tauhidullah’ dengan benar
  2. Mengajarkan ‘taat al waalidaen’ (mentaati kedua orang tua) dalam batas-batas ketaatan kepada Pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran seseorang kepada Ilahi.
  3. Mengajarkan ‘husnul mu’asyarah’ (pergaulan yang benar) serta dibangun diatas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, sehingga pergaulan tersebut memiliki akar kebenaran dan bukan kepalsuan.
  4. Menanamkan nilai-nilai ‘takwallah’
  5. Menumbuhkan kepribadian yang memiiki ‘Shilah bi Allah’ yang kuat (dirikan shalat)
  6. Menumbuhkan dalam diri anak ‘kepedulian sosial’ yang tinggi (amal ma’ruf nahi munkar)
  7. Membentuk jiwa anak yang kokoh (sabar)
  8. Menumbuhkan ‘sifat rendah hati’ serta menjauhkan sifat arogan
  9. Mengajarkan ‘kesopanan’ dalam sikap dan ucapannya.

Kesembilan poin tersebut diatas disimpulkan dari QS. Luqman: 12-19

  1. Sedangkan QS. As Shaffat: 102, mengajarkan ‘metodologi’ pendidikan anak. Ayat ini mengisahkan dua hamba ALLAH (bapak-anak), Ibrahim dan Ismail terlibat dalam suatu diskusi yg mengagumkan. Bukan substansi dari  diskusi mereka yg menjadi perhatian kita. Melainkan approach/ pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan.
  2. Pendidikan hendaknya dilakukan sedini mungkin, sehingga tertanam kebiasaan dalam diri anak sejak awal. Kebiasaan ini akan didukung oleh kesadaran penuh jika anak telah mencapai tingkat baligh. Dalam hadits nabi dijelaskan “suruhlah anak-anak kamu shalat jika mereka sudah berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur 10 tahun (tidak melakukan shalat).

Tafsir dr ‘pukulan’ tersebut disesuaian dengan situasi dimana kita hidup.

Pertama, pukulan tersebut bukan termasuk siksaan, tapi bersifat ‘didikan’ semata.

Kedua, pukulan itu tidak selamanya diartikan dengan pukulan fisik. Melainkan diartikan sebagai pukulan Psykologis atau kejiwaan. Misal; anak kita senang piknik, ketika anak tidak melakukan kewajiban agama, maka kegiatan pkinik ditunda.

  1. Tegakkan shalat berjamaah di rumah tangga masing.
  2. Tanamkan Al Quran kepada anak sejak dini
  3. Membiasakan praktek sunnah dalam kehidupan keseharian
  4. 15. Orang tua menjadi tauladan dalam kehidupan anak-anak mereka. “Perbaiki dirimu, niscaya manusia akan baik denganmu”
  5. Memperbanyak doa

Disadur oleh Umi Rosyida (KB Kapal)